Ban Truk Kurang Angin Saat Muatan Penuh: Panas Tersembunyi Yang Bisa Berujung Pecah Ban Di Tol
Ban truk yang kurang angin hampir tidak terlihat dari luar, tapi di bawah muatan penuh dan kecepatan stabil di tol, ban itu terus memanas sampai bisa terkelupas atau pecah.
Pagi di rest area jalan tol, sopir truk biasanya sibuk mengecek muatan, terpal, dan jadwal bongkar. Ban sering cukup "ditendang" sekali dua kali, lalu perjalanan lanjut. Masalahnya, ban truk yang kekurangan angin hampir tidak kelihatan bedanya dari luar—apalagi pada roda ganda di belakang, tempat satu ban bisa diam-diam menopang beban lebih berat daripada pasangannya.
Saat tekanan angin kurang, dinding ban melentur lebih jauh setiap kali roda berputar. Lenturan berulang itu menghasilkan panas. Di jalan tol, dengan kecepatan stabil berjam-jam, muatan penuh, dan aspal yang sudah panas sejak siang, suhu di dalam ban naik terus tanpa sempat turun. Karet dan benang kawat di dalamnya pelan-pelan melemah, sampai suatu saat telapak ban terkelupas atau ban pecah di tengah perjalanan.
Pecah ban pada truk bukan sekadar urusan ganti roda. Serpihan telapak yang terlempar bisa mengenai kendaraan di belakang, terutama sepeda motor di jalan arteri. Pada roda depan, kehilangan tekanan mendadak bisa membuat kemudi tertarik ke satu sisi. Truk yang terpaksa berhenti di bahu jalan pada malam hari juga menjadi risiko tabrak belakang bagi pengguna jalan lain.