Sabuk Pengaman Di Kursi Penumpang Bus: Kenapa Tetap Perlu Dipasang Walau Hanya Duduk Di Belakang

Banyak bus AKAP dan pariwisata kini dilengkapi sabuk pengaman di setiap kursi, tetapi jarang dipakai penumpang. Padahal saat bus mengerem keras atau terguling, sabuk itulah yang menahan tubuh agar tidak terlempar.

Naik bus malam antarkota, penumpang biasanya langsung menyandarkan kursi, memasang selimut, lalu tidur. Di sisi kursi sebenarnya ada sabuk pengaman dengan gesper merah atau hitam, tetapi hampir tidak ada yang menyentuhnya. Alasannya klasik: merasa bus besar itu aman, sopir sudah berpengalaman, dan sabuk terasa mengganggu saat tidur. Sabuk itu akhirnya terselip di antara jok sampai perjalanan selesai.

Masalahnya, bus juga bisa mengalami pengereman mendadak, tabrakan, atau terguling di tikungan dan turunan panjang. Saat itu terjadi, tubuh penumpang tetap bergerak dengan kecepatan bus sebelumnya. Penumpang yang tidak terikat bisa terlempar ke sandaran kursi depan, ke lorong, membentur kaca, atau bahkan keluar dari jendela yang pecah. Banyak cedera berat pada kecelakaan bus justru terjadi karena benturan di dalam kabin, bukan karena benturan bus itu sendiri.

Bus memang lebih berat dan lebih tinggi daripada mobil, tetapi justru karena tinggi, risiko terguling lebih besar ketika bus keluar jalur atau oleng di tikungan. Pada kejadian terguling, penumpang yang memakai sabuk tetap berada di kursinya, sementara yang tidak memakai sabuk bisa saling bertabrakan dengan penumpang lain. Karena itu, sabuk pengaman di kursi penumpang bukan aksesori, melainkan bagian dari sistem keselamatan bus.