Motor Listrik Menerjang Genangan Saat Musim Hujan: Seberapa Dalam Yang Masih Aman
Motor listrik memang dirancang tahan cipratan dan hujan, tetapi genangan dalam tetap bisa merusak baterai, motor penggerak, dan kontroler. Ini cara menilai risiko sebelum nekat menerobos air.
Begitu musim hujan datang, pemandangan pengendara yang menuntun motor di tengah genangan kembali jadi hal biasa. Bedanya, kini makin banyak yang menuntun motor listrik. Sebagian pemilik merasa lebih tenang karena motor listrik tidak punya knalpot yang bisa kemasukan air atau mesin yang bisa water hammer. Sebagian lagi justru khawatir berlebihan dan takut motornya korsleting hanya karena kehujanan. Kenyataannya ada di tengah-tengah.
Motor listrik produksi pabrikan umumnya sudah dirancang untuk dipakai di bawah hujan. Baterai, kontroler, dan konektor utama biasanya dilindungi casing tertutup dengan peringkat ketahanan air dan debu tertentu, yang tercantum sebagai kode IP di buku manual atau spesifikasi resmi. Kode seperti IP67, misalnya, berarti komponen itu diuji tahan direndam dalam kedalaman dan durasi terbatas. Namun peringkat itu berlaku untuk komponen dalam kondisi baru dan seal yang utuh, bukan jaminan bahwa seluruh motor boleh dipakai berenang. Lampu, saklar setang, port pengisian, dan sambungan kabel kecil sering punya perlindungan yang lebih rendah.
Titik paling rawan biasanya ada di bagian bawah. Pada banyak skuter listrik, baterai diletakkan di bawah dek pijakan kaki, sedangkan motor penggerak ada di roda belakang. Jika genangan sudah setinggi dek atau menutupi as roda, air mulai menekan seal dan bisa masuk lewat celah yang mulai getas karena usia, panas, atau bekas dibongkar. Air yang masuk tidak selalu langsung membuat motor mati. Kerap kali gejalanya muncul belakangan, berupa karat di konektor, lampu indikator yang aneh, jarak tempuh yang tiba-tiba turun, atau motor yang mendadak tidak mau menyala beberapa hari kemudian.