Mobil Bergetar Saat Berhenti Di Lampu Merah: Engine Mounting Lelah Yang Sering Disangka Mesin Rusak

Getaran yang terasa sampai setir dan jok saat mobil diam di posisi D sering dikira mesin bermasalah. Padahal penyebabnya kerap hanya karet dudukan mesin yang sudah getas dimakan usia dan panas.

Banyak pemilik mobil mengenal momen ini: lampu merah menyala, mobil berhenti dengan transmisi di posisi D, lalu setir, lantai, dan jok terasa bergetar halus. Begitu tuas dipindah ke N atau P, getaran mereda. Gejala seperti ini sering langsung dicurigai sebagai busi lemah, throttle kotor, atau bahkan mesin yang mulai "capek". Padahal dalam banyak kasus, mesinnya baik-baik saja. Yang lelah adalah engine mounting, karet dudukan yang menahan mesin dan transmisi di rangka mobil.

Engine mounting bekerja sebagai peredam. Mesin selalu bergetar saat hidup, dan karet di dudukan inilah yang menyerap getaran itu supaya tidak merambat ke kabin. Masalahnya, karet tidak abadi. Panas ruang mesin, rembesan oli, beban torsi setiap kali mobil berakselerasi, serta jalan rusak membuat karet perlahan mengeras, retak, atau sobek. Pada mobil yang sering dipakai di kemacetan kota, prosesnya bisa terasa setelah 5–7 tahun pemakaian atau sekitar 80.000–100.000 km, meski angka ini sangat bergantung pada kondisi pemakaian.

Ciri khasnya cukup mudah dikenali. Getaran paling terasa saat mobil diam di posisi D atau saat AC menyala, karena mesin menanggung beban tambahan. Muncul bunyi "duk" atau hentakan ketika mobil mulai jalan, mundur, atau saat pindah dari P ke D dan R. Pada mobil manual, hentakan terasa saat melepas kopling atau ketika gas dilepas mendadak. Jika dilihat dari ruang mesin, mesin tampak bergoyang berlebihan ketika digas sebentar dalam kondisi rem ditahan.