Air Di Solar Bus Saat Musim Hujan: Water Separator Yang Jarang Dikuras Bisa Merusak Injektor
Musim hujan dan udara lembap membuat air lebih mudah masuk ke tangki solar bus, lalu tertahan di water separator yang sering lupa dikuras. Kebiasaan cek mangkuk sedimenter setiap pagi jauh lebih murah daripada mengganti pompa dan injektor common rail.
Di banyak pool bus, rutinitas pagi biasanya sama: cek oli, cek air radiator, tekan klakson, lalu berangkat. Satu komponen kecil di dekat tangki atau di ruang mesin sering terlewat, yaitu water separator, yang oleh mekanik lebih akrab disebut sedimenter. Bentuknya mirip filter solar dengan mangkuk bening atau keran kecil di bagian bawah. Tugasnya sederhana tetapi penting: menangkap air dan kotoran sebelum solar sampai ke pompa tekanan tinggi dan injektor.
Air bisa masuk ke solar dari beberapa jalan. Tangki yang sering dibiarkan setengah kosong semalaman menyimpan udara lembap; saat suhu turun menjelang pagi, uap air mengembun di dinding tangki dan menetes ke dalam solar. Musim hujan memperparah kondisi ini. Air hujan juga bisa ikut masuk lewat tutup tangki yang tidak rapat atau saat pengisian dilakukan di bawah hujan. Ditambah lagi, solar campuran biodiesel yang kini dipakai di Indonesia lebih mudah menyerap dan menahan air dibanding solar murni, sehingga pengurasan rutin makin penting.
Mesin diesel modern dengan sistem common rail sangat sensitif terhadap air. Solar sekaligus berfungsi sebagai pelumas bagi pompa dan injektor yang bekerja pada tekanan sangat tinggi. Air tidak punya daya lumas itu, sehingga komponen presisi bisa cepat aus, berkarat, atau macet. Di batas antara air dan solar juga bisa tumbuh mikroba yang membentuk lendir gelap, yang kemudian menyumbat filter. Biaya perbaikannya jauh lebih besar daripada harga satu filter.